Wisata Ke Borobudur, Tengok Juga Tulip Di Dieng…


KOMPAS.com
– Tantangan. Dari sekian kata di kamus bahasa, inilah yang barangkali paling mewakili cerita dan kegelisahan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo soal pengembangan pariwisata di provinsinya. Ada apa?

“Apa yang tak ada di Jawa Tengah? Dari wisata alam, religi, budaya, sampai tematik, semua ada,” ujar Ganjar saat berbincang dengan Kompas.com pada medio Juli 2015.

Setahun berlalu, dalam momen yang hampir mirip, Ganjar kembali menyinggung hal tersebut. “Tahu tidak, (tanaman bunga) tulip saja yang orang kira hanya ada di Belanda, itu juga ada di Jawa Tengah, ada di Dieng!” ungkap dia.

Menurut Ganjar, satu saja yang belum juga kunjung tersedia di provinsinya. “Paket wisata yang membuat orang tahu benar apa saja isi Jawa Tengah, yang terorganisir dengan bagus, memberi kepastian bagi wisatawan datang,” papar dia.

(Baca juga: Yakin Sudah Tahu Banyak soal Borobudur?)

Ganjar pun berpendapat, wisatawan terutama dari mancanegara pada dasarnya butuh paket yang membuat mereka bisa memperhitungkan waktu perjalanan, menerima fasilitas seperti penginapan yang sesuai perkiraan, dan atraksi yang memang layak disambangi jauh-jauh.

Permintaan itu bisa saja terdengar sederhana. “Tapi ya itu tantangannya. Ada atau tidak yang bisa menyediakan dan mengelola perjalanan wisata seperti itu secara rutin, berkelas, dan memberikan kepastian?” tanya dia.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Matahari terbit di belakang Gunung Sundoro terlihat dari Bukit Sikunir, Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (1/11/2014). Dieng menawarkan keindahan sekaligus ancaman, karena dataran tingginya terbentuk dari gunung berapi yang kini masih mengeluarkan gas.

Bayangkan, kata orang asli Purworejo ini, suatu hari ada paket wisata yang menawarkan “Taman Tulip di Puncak Dieng”. Kumpulan bunga tulip, lanjut dia, disusun sedemikian rupa sehingga memuncullkan tulisan “Dieng” laiknya “Hollywood” di California.

“Semua tinggal pengemasannya. Iya, pengemasan untuk potensi wisata Jawa Tengah. Itu tak bisa hanya dari pemerintah apalagi pemerintah daerah. Ayo, siapa punya ide? Konkret ya. Datang ke saya, kita bahas dan siapkan eksekusinya,” ujar dia.

Terlebih lagi, imbuh Ganjar, Jawa Tengah punya Candi Borobudur di Kabupaten Magelang.  Harusnya, ujar dia, ini jadi modal awal untuk menata potensi lain pariwisata di sini.

Menjawab tantangan

Candi Borobudur merupakan episentrum dari lingkaran kawasan wisata yang membentang dari Semarang hingga Yogyakarta. Tak terbilang pesona wisata ada di radius tersebut. Itu belum menghitung kawasan pesisir utara Jawa Tengah, dengan pesona yang berbeda lagi.

Sebagai satu dari 10 destinasi prioritas, Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya punya radius pesona yang merambah Semarang, Salatiga, Boyolali, Klaten, Yogyakarta, Magelang, dan area Dieng. Targetnya, dua juta wisatawan mancanegara bakal bertandang ke kawasan ini pada 2019.

Dengan target jumlah kunjungan tersebut, harapannya ada devisa 2 miliar dollar AS masuk dari kawasan ini. Sebelumnya terdata hanya 250.000-300.000 wisatawan mancanegara tiba di Candi Borobudur dan sekitarnya.

(Baca juga: Rp 20 Triliun untuk Candi Borobudur)

Kajian Kementerian Pariwisata mendapati, setidaknya juga ada tiga kategori wisata yang masih dapat dikembangkan lebih jauh di kawasan ini.

ARSIP BIRO HUKUM DAN KOMUNIKASI PUBLIK KEMENPAR Prosesi larungan yaitu menghanyutkan rambul gimbal yang sudah dipotong dan dimasukkan ke kendi bersama sesaji di Telaga Warna, Dieng, Minggu (7/8/2016).

Rinciannya, wisata alam, wisata budaya, serta wisata man made seperti atraksi, kawasan terintegrasi, dan kegiatan bersama (meeting, incentive, convention, dan exhibition, disingkat MICE).

“Promosi dan pengembangan potensi pariwisata seperti ini tak bisa hanya mengandalkan satu atau dua stakeholder. Semua kalangan harus ikut berkiprah, kalau hasilnya juga mau terlihat segera nyata,” kata Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kementerian Pariwisata, Dadang Rizki Ratman, saat berbincang dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Penggarapan destinasi, lanjut Dadang, juga butuh keterlibatan banyak pihak. “Termasuk untuk pengembangan potensi bisnis dan industri pariwisata,” ujar dia.

(Baca juga: Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata)

Kabar baiknya, apa yang diminta kepada Ganjar soal akses langsung ke beragam lokasi wisata di radius destinasi prioritas Candi Borobudur sudah bertambah. Akses untuk menikmati pesona Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya , misalnya, semakin beragam.

Pembenahan infrastruktur gencar dilakukan untuk mendukung destinasi prioritas ini. Bandara,  tak akan lagi hanya mengandalkan Bandara Adisutjipto di Yogyakarta.

KOMPAS,COM/ M Wismabrata Bandara Adi Soemarmo Surakarta, Boyolali

Saat ini terus dikebut pembangunan bandara di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu, Bandara Adi Soemarmo di Solo, Jawa Tengah, juga sudah dinyatakan menjadi hub kawasan selatan untuk rute penerbangan salah satu maskapai nasional.

Ada lagi. Jalur kereta yang menghubungkan tiga bandara tersebut juga akan diaktifkan kembali, menyambung rute yang sudah ada dari Jakarta ke Surabaya. Rencananya, akan ada pula aktivasi jalur kereta dari Yogyakarta ke Magelang.

“Jalur kereta itu kan sangat baik kalau dikoneksikan dengan jalan kereta yang ada, Jakarta-Yogyakarta-Solo-Surabaya. Jadi bisa dibayangkan nanti orang dari Jakarta mau ke Borobudur bisa langsung,” ungkap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (10/11/2016).

Budi berkeyakinan, rencana ini akan mewujudkan transportasi terintegrasi, cepat, dan efisien, untuk mendukung pengembangan destinasi prioritas Candi Borobudur dan kawasan di sekitarnya.

Masyarakat bisa punya saham

Menteri Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menambahkan, upaya memperluas akses menuju destinasi prioritas ini akan menghadirkan pula rencana pembangunan jalan tol dan pembenahan jalan nasional.

Ridwan Aji Pitoko/Kompas.com Konstruksi Jembatan Tuntang sepanjang 370 meter yang merupakan bagian dari Seksi 3 Tol Semarang-Solo yang menghubungkan ruas Bawen-Salatiga, Selasa (26/4/2016).

“Ini masih akan kami kaji dulu apakah butuh jalan tol (sampai ke Borobudur) atau cukup jalan nasional saja. Untuk jalan tol sudah ada Jalan Tol Cileunyi-Cilacap-Yogyakarta-Solo dan Yogyakarta-Bawen yang harus disinkronkan,” tutur Basuki.

(Baca juga: Jalur Kereta dan Jalan Dikembangkan untuk Akses ke Borobudur)

Transportasi darat dari arah Semarang, bagaimana pun tak bisa dinafikan, setidaknya merujuk pada riset Kementerian Pariwisata. Di situ disebutkan, sebagian pengunjung Candi Borobudur dan kawasan sekitarnya pun kerap datang melalui Semarang.

Di Semarang ada Stasiun Tawang dan Poncol, yang dilalui kereta api dari Jakarta, lewat jalur pantai utara Jawa. Kota ini punya pula Bandara Ahmad Yani, yang melayani pula penerbangan langsung dari Jakarta.

Ada pula di sini, Pelabuhan Tanjung Emas, akses jalur laut terdekat menuju Candi Borobudur dan sekitarnya.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Turis dari Eropa yang menggunakan kapal pesiar Minerva tiba di Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (7/1/2013). Turis yang berkunjung ke Jawa Tengah diperkirakan meningkat seiring dengan banyaknya kapal pesiar yang akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas. Pada tahun 2011 terdapat 17 kapal pesiar yang bersandar dan tahun 2013 diperkirakan naik menjadi 26 kapal. Kunjungan singkat selama satu hari untuk berwisata di Borobudur dan Museum Kereta Api Ambarawa.

“Berdasarkan paparan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, setiap dua pekan sekali ada cruise yang singgah ke Pelabuhan Tanjung Emas dengan membawa 1.000-2.000 wisatawan mancanegara,” tulis riset tersebut.

Wisatawan itu rata-rata turun di Pelabuhan Tanjung Emas dan melanjutkan perjalanan darat ke Candi Borobudur. Namun, lanjut riset itu, mereka hanya punya waktu satu hari untuk segera kembali ke pelabuhan dan berlayar lagi. 

Untuk semua rencana pengembangan tersebut, anggaran senilai Rp 20 triliun disiapkan. Separuh nilainya berasal dari kas negara dan selebihnya ditawarkan kepada investor.

”Anggaran Rp 20 triliun tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur di areal seluas 5.000 hektar di kawasan menuju Candi Borobudur,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam jumpa pers seusai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Taman Wisata Candi Borobudur, Jumat (29/1/2016).

Infrastruktur dasar yang akan dibangun, sebut Arief, antara lain jalan, listrik, dan penyediaan air bersih. Rapat tersebut diikuti pula oleh Ganjar,  Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, dan Bupati Magelang Zaenal Arifin.

Menurut Arief, pengelolaan dan pengembangan kawasan Candi Borobudur akan dilakukan secara terintegrasi oleh Badan Otorita Borobudur. Badan ini mencakup pemerintah; PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko; serta masyarakat.

”Masyarakat nantinya berkesempatan memiliki golden share. Mereka bisa memiliki saham tanpa ada kewajiban menyetor,” ujar Arief.

Kompas.com/Ika Fitriana Para Biksu dan umat Buddha menerbangkan lampion di pelataran Candi Borobudur, Magelang, dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak 2560 BE, Sabtu (21/5/2016) dini hari.

Nah, siapa berani menjawab tantangan Ganjar dan punya saham untuk pengembangan Candi Borobudur dan kawasan di sekitarnya ini?

Kalaupun belum tertantang atau berminat untuk kedua hal itu, Anda yang gemar berwisata pun tetap bisa ikut membantu mengenalkan destinasi prioritas Indonesia. Caranya, bagikan saja cerita Anda lewat media sosial.

Dalam setiap unggahan di media sosial, cantumkan tanda pagar (tagar) atau hashtag #ceritadestinasi. Untuk Twitter dan Instagram, sebutkan pula @ceritadestinasi ketika mengunggah cerita atau foto.  Cerita panjang Anda bisa pula diunggah di Facebook lewat fan page Cerita Destinasi.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/14/215704527/wisata.ke.borobudur.tengok.juga.tulip.di.dieng.

Continue Reading

Kerupuk Mesuji Yang Gurih Dan Lezat

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com – Di sebuah daerah terpencil bernama Desa Wiralaga, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, di sana lah sebagian besar penduduk Mesuji asli tinggal. Mereka membangun tempat tinggal di tepian sungai.

Ya, orang menyebutnya Sungai Mesuji. Dahulu ketika hutan masih lebat transportasi menuju Jakarta bisa langsung dilalui lewat sungai tersebut. Di sungai itu banyak sekali ikan yang hidup dan berkembang biak.

Salah satunya ikan lele merah dan ikan gabus. Kedua jenis ikan itu sering digunakan warga setempat untuk membuat makanan olahan seperti ikan asin gabus dan kerupuk. Penduduk di sana menyebutnya kerupuk Mesuji.

(BACA: Menyusup ke Dapur Pembuatan Kerupuk Kulit Kerbau)

Bentuknya bulat kriting besar dan rasa ikannya begitu menyolok. Midah (50), warga Wiralaga memproduksi kerupuk tersebut sampai 5 kuintal per bulan.

“Kerupuk ini menjadi makanan sehari-hari orang Mesuji hampir setiap ibu-ibu di sini bisa membuat kerupuk ini,” kata Midah yang ditemui Senin (7/11/2016).

KOMPAS.com/ENI MUSLIHAH Kerupuk Mesuji khas Lampung.

Kami punya kesempatan melihat pembuatannya. Ikan lele sungai terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian. Lalu, dibentangkan di atas penggilasan plastik kemudian sebuah logam kuningan seperti parutan menyerut ikan hingga ke dasar tulang ikan.

Ikan yang sudah halus diserut itu lalu ditaburi tepung sagu dan diberi garam secukupnya. Kemudian adonan dicetak berbentuk pipih, kriting dan bulat. Setelah selesai lalu dijemur sampai beberapa hari hingga kering.

“Supaya kerupuk mengembang besar, pastikan digoreng dengan minyak yang cukup dan api yang merata,” kata Midah memberi tips agar kerupuk tidak bantat.

Nah, kerupuk yang sudah digoreng siap makan. Eitt, ingat ya pastikan mengunyah tidak terlalu penuh di mulut. Bisa-bisa lecet dan sariawan.

KOMPAS.com/ENI MUSLIHAH Midah, perajin kerupuk mesuji yang tengah mempraktikkan cara membuat makanan favorit warga Mesuji, Provinsi Lampung.

Kerupuk mesuji dari asal tempatnya dibuat saja harganya Rp 75.000 per kilogram. Isinya bisa sampai 30-35 kerupuk mentah. Dan kalau sudah digoreng saya mendapatkan kerupuk ini di Pasar Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji seharga Rp 5.000 per satuan.

Nah, kalau melewati Mesuji jangan lupa mampir ke pasar atau rumah makan dan mencoba gurihnya kerupuk mesuji ini.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/102200427/kerupuk.mesuji.yang.gurih.dan.lezat

Continue Reading

Nasi Goreng, Makanan Favorit Saat Naik Pesawat

JAKARTA, KOMPAS.com – Bicara soal makanan yang disajikan dalam penerbangan, rupanya nasi goreng menjadi favorit mayoritas wisatawan. Hidangan ini jadi kesukaan turis domestik maupun mancanegara.

“Nasi goreng masih menjadi favoritnya (turis). Itu nasi gorengnya aneka penyajian dari berbagai daerah,” kata Chairman Asia Pacific Onboard Travel (APOT) ASIA, Bambang Sujatmiko saat dihubungi KompasTravel, Senin (14/11/2016).

Ia menyebutkan, banyak permintaan nasi goreng untuk disajikan dalam pesawat. Bambang menyebut biasanya kuliner nasi goreng tersedia pada penerbangan dengan rute-rute pendek internasional.

“Nasi goreng itu kebanyakan disajikan untuk rute penerbangan pagi. Biasanya ke rute-rute regional Asia Tenggara seperti Singapura, Bangkok, Malaysia. Intinya yang penerbangan rute pendek,” jelas laki-laki yang juga menjabat sebagai Presiden & CEO PT. Aerofood Indonesia.

Menurutnya, nasi goreng sudah menjadi ciri khas kuliner Indonesia. Makanan ini tak hanya populer di kalangan turis domestik, tapi juga mancanegara.

Akhir tahun lalu aplikasi direktori kuliner Indonesia, Qraved menyebutkan bahwa menu nasi goreng menempati posisi pertama makanan paling dicari tahun 2015. Qraved menghimpun 10 makanan yang paling banyak dicari oleh satu juta pengguna aktif aplikasi tersebut sepanjang tahun 2015.

Asia Pacific Onboard Travel atau APOT adalah organisasi nirlaba bertaraf internasional yang mempunyai tujuan menjadi sebuah wadah yang merangkul perusahaan di bidang penerbangan khususnya dan hospitality pada umumnya. APOT memiliki tujuan bersama untuk mempromosikan destinasi Asia dari segi wisata, produk maupun bisnis.

Anggota APOT ASIA terdiri dari Airline Inflight Service Management, Airline Inflight Product Suppliers, Airline Caterers, Airline Travel & Sales Management, Media & Network Partners, Hotels & Hotel Management dan Catering Product Supplier.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/060500227/nasi.goreng.makanan.favorit.saat.naik.pesawat

Continue Reading

Orchard Road Mulai Bersolek Sambut Natal

KOMPAS.com – Orchard Road di Singapura terkenal sebagai salah satu tempat dengan dekorasi Natal tercantik di Asia Tenggara. Asyiknya, wisatawan bisa menikmati dekorasi ini beberapa minggu sebelum Natal tiba.

Tahun ini, dekorasi Natal di Orchard Road sudah bisa dinikmati mulai Sabtu (12/11/2016) lalu. Tema dekorasi tahun ini adalah ‘Christmas on A Great Street’.

Mengutip situs Your Singapore, Senin (14/11/2016), selama enam minggu kawasan perbelanjaan ini ‘disulap’ menjadi negeri dongeng yang berkilauan saat malam. Jutaan lampu menjuntai dari pohon-pohon hias dan gapura megah di jalur sepanjang 2,2 Km, membentang dari Tanglin Mall sampai Plaza Singapura. 

Deretan pusat perbelanjaan dan hotel di Orchard Road saling berlomba untuk menyuguhkan dekorasi Natal yang paling apik. Mereka memperebutkan penghargaan bergengsi yakni Best Dressed Building. 

Beberapa bangunan yang terkenal memiliki dekorasi cantik adalah Centrepoint, Tangs, dan Orchard Central. Tahun ini, beberapa gedung akan punya kastil negeri dongeng sampai rusa kutub mekanik.

Selain luar ruangan, dekorasi Natal juga semarak di bagian dalam pusat-pusat perbelanjaan. Tanglin Mall misalnya, akan punya ‘negeri salju’ yang pasti disukai anak-anak. Ada juga pohon Natal raksasa yang menjulang di Ngee Ann City dan ION Orchard.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/14/200900727/orchard.road.mulai.bersolek.sambut.natal

Continue Reading

“Roller Coaster” Tercuram Di Dunia, Berani Coba?

KOMPAS.com — Jangan mengaku pemberani kalau belum mencoba wahana satu ini. Takabisha, begitu nama wahana roller coaster yang ada di Fuji-Q Highland, Yamanashi, Jepang.

Takabisha disebut-sebut menjadi roller coaster paling curam di dunia, dengan tingkat kemiringan mencapai 121 derajat.

Mengutip situs resmi Fuji-Q Highland, Selasa (15/11/2016), wahana ini memiliki lintasan 1.004 meter. Hanya ada delapan tempat duduk, terbagi menjadi dua baris, yakni depan dan belakang.

Roller coaster ini merupakan tipe Euro-Fighter yang dibuat oleh perusahaan Gerstlauer. Wahana ini resmi dibuka untuk wisatawan pada 16 Juli 2011, dan langsung menyandang predikat roller coaster tercuram di dunia yang terbuat dari baja oleh Guinness World Record.

Wisatawan yang ingin bermain di Takabisha harus memiliki tinggi minimal 130 cm, dengan rentang usia 10-60 tahun. Meski wahana ini hanya dimainkan selama 112 detik, wisatawan akan dibuat deg-degan!

Begitu naik ke wahana, Anda akan masuk ke dalam terowongan gelap. Kereta perlahan akan naik, lalu ujung terowongan di atas sana pun terlihat. Namun, begitu tiba di ujung terowongan, kereta ini akan langsung terjun ke bawah dengan kemiringan beragam. Titik tercuram kemiringan Takabisha adalah 112 derajat!

Tak heran, Takabisha masuk dalam bucket list wisatawan yang ingin menaklukkan wahana-wahana ekstrem di seluruh dunia. Harga tiket untuk naik wahana ini adalah 1.000 yen (Rp 123.000). Sementara itu, harga tiket terusan untuk satu hari adalah 5.700 yen (Rp 702.000). Berani coba?

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/210100627/.roller.coaster.tercuram.di.dunia.berani.coba.

Continue Reading

Desa Wisata Digalakkan

BANJARNEGARA, KOMPAS – Sejumlah desa di Jawa Tengah bagian selatan terus mengembangkan potensi pariwisata mandiri dengan mengemas pesona alam secara inovatif. Pengembangan desa wisata tersebut perlahan mengangkat perekonomian warga secara swadaya tanpa bantuan pemerintah.

Kepala Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sarkum, Minggu (13/11/2016), mengatakan, sejak awal 2016, warga setempat sepakat mengembangkan obyek wisata Bukit Asmara Situk.

Hingga kini, pengunjung di lokasi yang menawarkan lanskap alam dari ketinggian itu rata-rata 1.300 orang dalam sepekan.

”Pengunjung tidak hanya dari Banjarnegara dan sekitarnya, tetapi juga dari Temanggung, Cilacap, Pekalongan, Tegal, dan Semarang. Bahkan, ada pula dari Jakarta dan wisatawan mancanegara,” ujar Sarkum.

Pengunjung Bukit Asmara Situk sebagian besar anak muda. Mereka ingin menikmati keindahan panorama dari sejumlah titik pengambilan foto. Sejumlah pasangan juga menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat pengambilan foto pranikah.

KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO Sejumlah remaja berswafoto di atas gardu pandang obyek wisata Bukit Asmara Situk, Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (12/11/2016). Obyek wisata yang menawarkan panorama alam dari atas ketinggian ini dikelola swadaya oleh warga setempat sejak awal tahun. Dari pengelolaan obyek wisata tersebut, desa mendapat tambahan pemasukan untuk meningkatkan infrastruktur sekaligus menggerakkan perekonomian warga.

Menurut Sarkum, dengan tiket Rp 5.000 pada hari biasa dan Rp 10.000 untuk Sabtu dan Minggu, potensi penambahan pendapatan desa meningkat sekitar Rp 30 juta.

Di Banyumas, salah satu desa yang sangat giat menambah obyek wisata sebagai daya tarik, yakni Desa Ketenger di Kecamatan Baturraden.

Menurut Kepala Desa Ketenger H Yayuk, beberapa obyek wisata baru yang dikelola warga antara lain adalah Curug Bayan, Curug Penganten, dan Curug Kembar, serta wahana baru yang sudah cukup populer, yaitu Taman Miniatur Dunia atau Small World.

Mandiri

Pemasukan dari sektor wisata itu, kata Yayuk, membuat kas desa lebih mandiri. Warga tak lagi menunggu bantuan dari pemerintah seperti biasanya. Bahkan, untuk memperbaiki jalan kampung, warga sudah bisa menggunakan kas desa yang kini mencapai Rp 500 juta per tahun.

Salah satu kabupaten yang pesat mengelola desa wisata adalah Purbalingga. Sejauh ini, jumlah desa wisata tersebar di 15 wilayah.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ardi Mandala Giri Desa Panusupan, Yanto Supardi mengatakan, sejak dikemas lebih baik, jumlah pengunjung ke desanya yang semula hanya 11.000 orang per tahun kini mencapai 98.000 orang per tahun.

KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO Jembatan pandang obyek wisata Bukit Asmara Situk, Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (12/11/2016). Obyek wisata yang menawarkan panorama alam dari atas ketinggian ini dikelola swadaya oleh warga setempat sejak awal tahun. Dari pengelolaan obyek wisata tersebut, desa mendapat tambahan pemasukan untuk meningkatkan infrastruktur sekaligus menggerakkan perekonomian warga.

”Pemerintah daerah punya peran, terutama dalam pembinaan masyarakat, seperti pelatihan cara memandu, mengelola homestay, dan promosi,” ujarnya.

Seluruh pemasukan dari pariwisata digunakan untuk mengembangkan infrastruktur dan perbaikan perekonomian warga.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Purbalingga Prayitno mengungkapkan, hingga kini, sudah dikembangkan 15 desa wisata. Umumnya mempromosikan keindahan alam dan budaya lokal.

”Kunci keberhasilan terletak pada inovasi dan kreativitas pengemasan. Pasalnya, hampir semua desa menjual keindahan alam. Jadi, perlu dikemas menarik dan unik sehingga wisatawan tertarik berkunjung,” kata Prayitno. (GRE)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 November 2016, di halaman 22 dengan judul “Desa Wisata Digalakkan”.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/113200127/desa.wisata.digalakkan

Continue Reading

Bila Wisman Ingin Bertemu Wali Kota Surabaya

SURABAYA, KOMPAS.com – Sebanyak 564.000 wisatawan mancanegara (wisman) dari berbagai negara tercatat telah berkunjung ke sejumlah destinasi wisata di Kota Surabaya hingga awal November 2016.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya, Wiwiek Widayati, di Surabaya, Selasa (15/11/2016), mengatakan pihaknya berkomitmen meningkatkan angka kunjungan wisman ke Kota Pahlawan.

“Caranya dengan terus mengoptimalkan sejumlah destinasi wisata yang ada di Surabaya. Seperti, dengan menyiapkan fasilitas parkir yang luas, hingga edukasi pelayanan terhadap wisatawan kepada para tukang becak,” katanya.

(BACA: Semangkuk Nostalgia di Kedai Es Krim Zangrandi Surabaya)

Wiwiek memaparkan, Desember mendatang akan ada kunjungan serupa, dan tidak menutup kemungkinan Balai Kota Surabaya tetap menjadi salah satu objek city tour.

“Banyak dari wisatawan yang ingin bertemu dengan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini,” katanya.

Menurut dia, pada tahun 2017 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya akan menambah tiga rute wisata yakni wisata mangrove, kampung lawas, dan melihat tari-tarian di Balai Budaya.

Kompas/Agnes Swetta Pandia Balai Kota Surabaya sebagai pusat pemerintahan Kota Surabaya, kini terbuka, serta menawarkan keramahan bagi para turis.

“Menurut wisatawan, nama Wali Kota Surabaya sendiri sudah terdengar hingga ke sana, jadi beberapa memang sengaja memilih Balai Kota agar bisa bertemu dengan wali kota,” ujarnya.

Wiwiek mengatakan sebelumnya ada sekitar 108 turis mengunjungi Balai Kota Surabaya melalui Kapal Pesiar MS Volendam yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin (14/11/2016).

Para wisatawan asing itu mengikuti paket Surabaya Discovery Tour dengan rute meliputi Patung Djoko Dolog-Balai Kota-Monumen Kapal Selam-Pasar Bunga Kayoon-House of Sampoerna.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/230900227/bila.wisman.ingin.bertemu.wali.kota.surabaya

Continue Reading

Mengenang Raja Thailand, Festival Lentera Akan Digelar Di Ko Phangan

KOMPAS.com – Festival lentera Loy Krathong adalah tradisi yang digelar masyarakat Thailand pada malam bulan purnama bulan ke-12 (November). Tahun ini, Loy Krathong jatuh pada 14 November 2016.

Festival lentera ini digelar di berbagai kota, termasuk Bangkok. Namun, kota terbaik untuk menikmati Loy Krathong adalah Chiang Mai yang terletak di utara Thailand.

Pada 15 November 2016, wisatawan juga bisa melihat festival Loy Krathong yang digelar di Ko Phangan. Pulau cantik di Provinsi Surat Thani ini menjadi tempat digelarnya Loy Krathong untuk mengenang mendiang Raja Thailand, Bhumibol Abdulyadej.

Mengutip situs resmi Tourism Authority of Thailand (TAT), Sabtu (12/11/2016), Ko Phangan adalah pulau yang terkenal dengan event Full Moon Party. Namun tahun ini, Loy Krathong akan digelar dengan tajuk “Full Moon for the King”.

Pada 15 November 2016 mulai pukul 19.00 waktu setempat, wisatawan bisa melihat upacara yang diadakan para biksu dilanjutkan oleh candle light ceremony. Ada pula upacara pembukaan Full Moon for the King.

Acara akan berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Acara ini disebut-sebut akan menarik sekitar 5.000 turis.

Loy Krathong tahun ini adalah momen luar biasa yang tak boleh terlewatkan. Soalnya, akan ada fenomena supermoon pada hari digelarnya Loy Krathong yakni 14 November.

Pada momen itu, jarak bulan terhadap bumi adalah yang terdekat sejak tahun 1948. Bulan akan tampak 14 persen lebih besar, dan 30 persen lebih terang dibanding biasanya.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/13/173141127/mengenang.raja.thailand.festival.lentera.akan.digelar.di.ko.phangan

Continue Reading

Belanja Murah Di Seoul, Coba Mampir Ke Pasar Namdaemun

SEOUL, KOMPAS.com – Mau cari sayur, ikan segar, pakaian, sampai oleh-oleh seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, kipas semua ada di Pasar Namdaemun. Pasar ini merupakan pasar tradisional terbesar dan terlengkap di Seoul, ibu kota Korea Selatan.

“Namdaemun ini adalah pasar tradisional tertua di Seoul. Sudah ada sejak zaman kerajaan Joseon, kira-kira 500 tahun lalu. Di sini terkenal dengan barang-barangnya yang murah dan dijual wholesale (borongan),” kata pemandu lokal, Park Sung Yi  saat acara famtrip 2016 Halal Restaurant Week Fam Tour oleh Korea Tourism Organization, Senin (14/11/2016).

Bentuk Pasar Namdaemun seperti blok dengan pembagian gang yang berdasarkan kategori barang. Misalkan blok pakaian dewasa, blok pakaian anak-anak, blok makanan kering, blok restoran, blok toko kelontong, dan masih banyak lainnya.

Kompas.com/Silvita Agmasari Pasar Namdaemun, Seoul, Korea Selatan

Berbelanja di Pasar Namdaemun ini adalah pengalaman yang luar biasa. Sebab di pasar ini, ada beragam jenis barang yang dijual. Selain itu juga ada aneka jajanan kaki lima khas Korea Selatan yang menggoda selera.

Soal harga, Pasar Namdaemun ini sangat bersahabat. Tak sampai satu jam, saya sudah berhasil memboyong koper ukuran XL yang dihargai 60.000 won atau setara Rp 720.000 dan jaket musim dingin yang dihargai 10.000 won atau setara Rp 120.000, ada lagi rumput laut kering, juga akseksoris handphone yang saya beli di pasar ini.

Bukan hanya saya yang sudah kalap berbelanja. Teman perjalanan saya yang rata-rata perempuan juga sudah tak kuasa menahan napsu belanja di Pasar Namdaemun. Sedangkan para pria, justru kalap jajan jajanan kaki lima khas Korea Selatan.

Kompas.com/Silvita Agmasari Pasar Namdaemun, Seoul, Korea Selatan

“Di sini bisa ditawar, tapi sangat sulit turun harga,” kata Sung Yi kepada saya. Memang benar, banyak penjual di Pasar Namdaemun yang telah melabeli barangnya dengan harga pas sehingga tak dapat ditawar. Ada pula penjual yang dapat ditawar meski tak dapat turun harga dengan drastis.

Satu hal yang membuat pengalaman berbelanja di Pasar Namdaemun begitu menyenangkan adalah para penjual yang ramah dan melayani pembeli dengan sepenuh hati. Tak jarang ada penjual yang dapat berbicara Bahasa Melayu. Hal ini terjadi karena banyak wisatawan dari Indonesia dan Malaysia.

Pasar Namdaemun berlokasi di Namdaemunsijang, daerah pusat kota Seoul. Buka dari pukul 09.00-17.00 setelah gerai tutup, giliran makanan jalanan khas Seoul yang buka di Pasar Namdaemun sampai malam hari.

Uniknya, Pasar Namdaemun tutup setiap hari Minggu. Jadi pastikan jika Anda ingin merasakan belanja murah dengan pengalaman pasar tradisional khas Korea Selatan yang autentik datanglah di hari Senin sampai Sabtu ke Pasar Namdaemun.

Kompas.com/Silvita Agmasari Pasar Namdaemun, Seoul, Korea Selatan

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/15/070500027/belanja.murah.di.seoul.coba.mampir.ke.pasar.namdaemun

Continue Reading

Bersua “Komodo” Di Bandara Komodo


KOMPAS.com
–  Hari-hari terkini bagi Bupati Manggarai Agustinus Ch Dula, gemuruh suara mesin pancar gas pesawat terbang yang kian sering melintas di atas kantornya, di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seakan sudah menjadi kelaziman.

Letak kantor pria yang menjadi orang nomor satu di Manggarai Barat sejak setahun silam itu memang dekat dengan Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo.

Lima tahun lalu, Bandara Komodo belum menyandang status sebagai bandara internasional. Bandara yang terletak 20 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu tampilannya, boleh dikata memprihatinkan.

Bayangkan, pada sore hari tatkala kegiatan penerbangan usai, warga bisa melintas menggunakan sepeda motor di landasan pacu. Tak hanya itu, ada serombongan kambing peliharaan yang melahap rumput di sekitar pelataran parkir pesawat (apron) di situ.

Josephus Primus Lima tahun silam, hanya ada sekat berbentuk pintu gulung (rolling door) yang membatasi tempat pengambilan bagasi di dalam Bandara Komodo di Labuhan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Begitu barang bawaan penumpang dari bagasi pesawat tiba di terminal kedatangan, para penumpang justru aktif memilih dan memilah yang mana milik mereka. Foto diambil pada 13 April 2011.

Hanya ada sekat berbentuk pintu gulung (rolling door) yang membatasi tempat pengambilan bagasi di dalam bandara. Jangan harap ada ban berjalan di situ.

Begitu barang bawaan penumpang dari bagasi pesawat tiba di terminal kedatangan, para penumpang justru aktif memilih dan memilah yang mana milik mereka.

Jumlah penerbangan kala itu, bahkan bisa dihitung dengan jari. Tiga maskapai penerbangan antara lain Aviastar dan Transnusa dengan rute dari Denpasar mampir di Komodo. Salah satu pesawat andalan adalah jenis jet BaE 146-200.

Lalu, maskapai penerbangan milik pemerintah, Merpati Nusantara Airlines yang kini sudah almarhum, sempat menjajal rute Denpasar-Labuan Bajo dengan pesawat buatan China, Xian MA-60, meski hanya sejenak.

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dalam proses perluasan di bagian apron pesawat, Jumat (2/8/2013). Setelah diperluas, bandara ini akan didarati pesawat Boeing.

Catatan yang dikumpulkan Kompas.com dari berbagai sumber menunjukkan, pada 2008, data jumlah kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo atau Manggarai Barat sebanyak 25.000 wisatawan asing dan domestik. Kemudian, selama 2010, kunjungan mencapai angka 47.000 lebih dengan waktu lama tinggal antara 6-8 hari.

Tentu bukan perkara sekejap bila Bandara Komodo bersolek. Walaupun pada 2013, pesawat angkut penumpang kelas medium, Boeing 737-800, sukses mendarat di Bandara Komodo, tetap diperlukan pembenahan agar bandara itu tampil kian cemerlang dengan kelengkapan setara bandara internasional.

Ikon

Kemudian, merujuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Penetapan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi proritas, menjadikan pembenahan Bandara Komodo bersifat segera dan wajib.

Sebelumnya, Pulau Komodo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Manggarai Barat mendapatkan predikat New Natural Seven Wonder.

Konsekuensinya, bakal kian banyak wisatawan asing dan lokal yang bertandang menikmati keindahan alam Pulau Komodo khususnya, dan berbagai keelokan di wilayah tiga kabupaten bagian barat Pulau Flores yakni Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Panorama di Pulau Kelor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Dulu, Bandara Komodo bernama Bandara Mutiara II. Nama ini mengingatkan nama lama bandara di Palu, Sulawesi Tengah, Mutiara.

Pembenahan Bandara Komodo utamanya ditujukan agar pesawat Boeing 737-800 bisa mendarat di situ. Pesawat jenis ini mampu membawa penumpang hingga 160 orang dalam sekali perjalanan.

Sudah barang tentu, kapasitas daya angkut ini melampaui pesawat-pesawat berukuran lebih kecil sebagaimana disebutkan di atas. Merujuk data Kementerian Pariwisata, saat ini landasan pacu Bandara Komodo sudah mencapai panjang 2.550 meter dan lebar 45 meter.

Di samping penambahan panjang landasan pacu, pemerintah Indonesia juga membenahi tampilan Bandara Komodo dari segi fisik yakni bangunan. Lantaran mengandalkan komodo (varanus komodoensis) sebagai ikon pariwisata Labuan Bajo, tampilan bangunan Bandara Komodo dibuat menyerupai sosok hewan komodo, endemik Pulau Komodo.

Sebuah tantangan menarik. Pasalnya, sebelum melihat komodo dengan mata telanjang, para pelancong sudah bersua “komodo” di Bandara Komodo.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Bandara Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Terminal baru Bandara Komodo mulai dibangun pada 2012 awal dan rampung pada 2015. Saat melakukan kunjungan kerja ke NTT, 27 Desember 2015, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo meresmikan terminal baru ini.

Sekarang, luas terminal itu mencapai 9.687 meter persegi. Daya tampung penumpangnya pun menanjak hingga 533 orang andai dibandingkan sebelum pembenahan pada angka 400 orang. Rencana pemerintah, kapasitas daya tampung itu bakal dimaksimalkan lagi hingga 700 orang penumpang.

Kini, fitur keamanan berbasis sinar x-ray sudah tersedia berikut gerbang pendeteksi logam. Yang paling unik, para penumpang tak lagi  menjumpai fasilitas pengambilan bagasi sekelas “rolling door”. Fasilitas itu sudah jauh lebih modern dengan tambahan ban berjalan.

Paling mutakhir, mulai 21 Oktober 2016 sudah ada penerbangan langsung Garuda Indonesia rute Jakarta-Labuan Bajo. Lagi-lagi, penambahan itu bertujuan mendorong pengembangan kepariwisataan di Labuan Bajo.

Rute Jakarta-Labuan Bajo pergi-pulang pertama kali dibuka pada Jumat tersebut. Dalam sepekan beroperasi, tingkat keterisian pesawat jenis Bombardier CRJ1000 NexGen berkapasitas 96 penumpang itu di atas 50 persen.

(Baca: Labuan Bajo di Tengah Gempita Wisata Dunia)

Waktu tempuh rute Jakarta-Labuan Bajo sekitar 2 jam. Ini lebih cepat dibandingkan dengan rute sebelumnya, yakni Jakarta-Denpasar-Labuan Bajo, yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam.

Namun, jika dari Sumatera, pesawat ATR72-600 berkapasitas 70 penumpang harus melalui Jakarta dan Denpasar, sebelum ke Labuan Bajo.

Garuda Indonesia melayani penerbangan Jakarta-Labuan Bajo pergi pulang enam kali dalam sepekan. Penerbangan hanya tidak ada setiap Sabtu. Pesawat ini terbang dari Jakarta pukul 10.05 WIB dan tiba di Labuan Bajo pukul 13.35 Wita. Selanjutnya dari Labuan Bajo pada pukul 14.15 Wita dan tiba di Jakarta pukul 15.25 WIB.

Patut diingat, penerbangan yang menghemat waktu ini pun juga berimbas pada penghematan ongkos perjalanan. Dengan penerbangan langsung itu, Anda cukup merogoh kocek Rp 1,4 juta sekali jalan. Andai dibandingkan menggunakan rute lama, ada penghematan Rp 300.000 bagi dompet Anda.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI Wisatawan tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/10/2016), menggunakan pesawat Garuda Indonesia yang berangkat langsung dari Jakarta. Penerbangan langsung sekitar dua jam itu dinilai dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Kini, bola ada di tangan Anda. Usai menjejakkan kaki di Labuan Bajo, nikmatilah paras cantik wisata alam dan budaya mulai dari Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, dan rumah adat Wae Rebo.

(Baca juga: Buat Apa “Ngurusin” Pariwisata)

Jangan lupa, setelah berpetualang bagikan cerita Anda lewat media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook. Pasang tanda pagar (tagar) atau hashtag #ceritadestinasi di dalamnya.

Untuk unggahan kicauan di Twitter atau foto di Instagram, sebutkan pula akun @ceritadestinasi. Adapun cerita panjang bisa Anda bagi lewat akun fan page Cerita Destinasi di Facebook. Siapa tahu, unggahan Anda akan membuat orang tertarik datang ke sini.

Yuk berpetualang!
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/14/122455327/bersua.komodo.di.bandara.komodo

Continue Reading